Selasa, 19 Juni 2007

Pleret: Ibukota Mataram Islam ke-3

Perpindahan ibukota Mataram dari Kerta ke Pleret memiliki makna yang sangat dalam bagi masayarakat Jawa. Periode Pleret ini dalam sejarah Mataram, seperti ditulis oleh sejarawan Belanda, H.J. de Graaf, disebut sebagai periode tirani dan disintegrasi. Raja yang memerintah Mataram pada periode ini adalah Sunan Amangkurat I. Tidak lama setelah naik tahta Amangkurat I segera memerintahkan rakyatnya untuk membikin batu bata secara besar-besaran karena dia ingin membangun istana baru di Pleret. Tidak diketahui dengan jelas mengapa Amangkurat I memilih membangun istana baru di Pleret dan meninggalan kraton lama di Kerta. Menurut Babad Momana raja memutuskan untuk pindah ke istana baru di Pleret pada tahun 1570 AJ 26 January 1648 Masehi. Pada tahun ini seorang utusan Belanda Rijklof van Goens mengunjungi Mataram, dan memberikan kesaksian bahwa saat kedatangannya di Pleret seluruh tembok keliling kraton telah selesai dibuat, dua pintu gerbang di alun-alun utara tempat diadakannya pertandingan tombak telah selesai dibangun. Keliling temboknya seluas 2.256 meter. Rouffaer yang mendatangi bekas kraton Pleret pada tahun 1889, memberi kesaksian bahwa tembok yang mengelilingi kraton terbuat dari batu bata setinggi 5 – 6 meter dengan tebal satu setengah meter. Pada puncak tembok berbentuk segitiga. Keterangan Van Goens dan Rouffaer sesuai dengan peta Kraton Pleret yg dimuat dalam P.J. Louw, Java Oorlog, jilid II.

Arsitektur Kraton Pleret memiliki kenunikan dibanding dengan istana-istana Mataram sebelum dan sesudahnya. Bentuknya tidak persis kotak persegi panjang tetapi seperti belahan ketupat. Kraton Pleret hanya memiliki satu alun-alun, yaitu alun-alun utara, karena di selatan tembok keraton mengalir Sungai Opak. Di luar alun-alun dan tembok kraton dibangun parit-parit yang yang luas dan digenangi air. Kesaksian adanya parit-parit di luar alun-alun utara ini diberikan oleh Abraham Verspreet yang mengunjungi kraton Pleret pada 16 Oktober 1668. Ia menyebutkan bahwa sebelum sampai ke alun-alun dia harus melewati sebuah jembatan yang dibangun di atas parit-parit itu. Verspreet mengibaratkan bahwa raja seperti tinggal di sebuah pulau. Di samping parit-parit ini, di sebelah tenggara kraton juga di bangun sebuah danau yang disebut Segarayasa atau laut buatan, yang sebenarnya pembuatannya sudah dimulai pada tahun 1644, yaitu pada saat masih di bawah kekuasaan Sultan Agung. Danau ini dibuat untuk menghibur diri raja dengan bermain perahu bersama istri-istrinya. Pada tahun 1659 danau diperluas ke sebelah timur alun-alun.

Pembangunan kraton ini berlangsung cukup lama. Setelah tembok keliling selesai dibangun, disusul pembangunan masjid yang terletak di sebalah barat Alun-alun pada tahun 1571 AJ atau 15 Januari 1649 M, disusul kemudian pembagunan Prabayeksa dan Sitinggil pada tahun berikutnya. Di sebelah Srimanganti ada sebuah bangunan yang juga dikelilingi tembok yaitu Suranatan. Pada tahun 1653 mulai dibangun kediaman Putra Mahkota dan sebuah bangsal di lapanagan Srimenganti pada tahun 1662. Bagunan terakhir yang dibangun di kompleks kraton Pleret adalah mausoleum permaisuri raja, Ratu Malang, di Gunung Kelir, yang letaknya tidak jauh dari kraton. Makam ini selesai dibangun pada tahun 1668 M.

Sumber-sumber Belanda menyebutkan bahwa pembangunan kraton Pleret dilakukan dengan kerja paksa, yang melibatkan 300.000 orang penduduk, baik dari sekitar negaragung maupun penduduk di pesisir utara dan timur Jawa. Untuk pembangunan Segarayasa sendiri melibatkan ribuan penduduk yang antara lain didatangkan dari Karawang. Beberapa pejabat tinggi yang tidak mau membantu membangun istana baru diikat dan dibaringkan di paseban, dijemur di bawah terik matahari yang menyengat. Sumber-sumber Belanda menyebutkan bahwa banyak utusan VOC yang dikirim menghadap raja ditolak, karena raja sedang sibuk mengawasi pembangunan istana baru.

1 komentar:

Isep Suprapto mengatakan...

KALAU NAMA KOTA KAMI PLERED PURWAKARTA ADA HUBUNGANNYA GAK PAK DENGAN ARTIKEL YG BAPAK TULIS?